Kamis, 13 Agustus 2009

MEMEK YANI, PEMBANTU GUE



Salah satu memek enak yang pernah gue cicipin adalah memeknya si ani, pembantu gue.
Gue sendiri baru tau nikmatnya lubang di selangkangannya setelah hampir setahun doi bekerja
di tempat gue. Itu pun tanpa disengaja, karena gue memang nggak pernah berminat
ngentotin doi. Padahal, kalau mau, kesempatan untuk itu sangat terbuka. Gue
waktu itu ngontrak di lantai 4 sebuah rumah susun dekat, cuma berdua doi. Gue
nempatin kamar belakang, dan doi tidur di kamar depan yang lebih kecil. Secara
fisik Yani, 20 tahun, lulusan SMA di kota P, Jawa Timur, cukup menarik. Wajahnya
manis. Badannya bagus, tidak kurus tidak gemuk, tapi cukup padat seperti umumnya
cewek-cewek seumurnya. Kulitnya coklat dan bersih. Teteknya kecil tapi masih
kenceng. Betisnya bagus --jenjang dan padat -- seperti badannya. Pengalaman
merasakan enaknya memek Yani bermula dari suatu malem ketika gue lagi susah
tidur. Gue berdiri di depan jendela kamar untuk melihat-lihat 'pemandangan' di
luar. Tanpa sengaja, di sebuah kamar salah satu rumah lantai 3 di seberang kamar
gue, terlihat sepasang manusia sedang bercumbu di tempat tidur. Jendela kamarnya
cuma dilapisi vitrage tipis dan lampu kecil di kamar itu tidak dimatikan. Tentu
saja gue langsung tune-in ke sana, karena kamar gue gelap dan mereka pasti nggak
tau sedang jadi bahan tontonan. Lumayan lama pasangan tetangga gue itu bergumul
di atas tempat tidur, sampai kontol gue ngaceng berat dan kepala agak pening.
Gue balik ke tempat tidur untuk menenangkan diri.


Setelah tegangan di selangkangan agak mengendor, mendadak gue pingin kencing. Cepet-cepet gue keluar kamar untuk ke kamar mandi. Eh, di dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi,gue lihat Yani lagi duduk di atas meja dapur yang gelap sambil memandang ke luar jendela. Ketika tahu gue mendekat, dia kaget sekali. Dan ketika gue melongok ke luar jendela untuk melihat apa yang sedang dipandanginya, dia kelihatan malu sekali dan secara refleks mau turun dari situ. Tapi badannya gue tahan dengan badan gue. Sembari melongok ke arah luar jendela, gue tanya: "Udah mulai?" Yani menjawab pelan: "Belum". Setelah itu tidak ada suara lagi, karena kita berdua asyik menonton live show di jendela bawah sana. Gue berdiri dengan badan merapat di badan Yani yang tetap duduk di atas meja dapur. Kontol gue menempel di paha kanannya. Sambil nonton tangan gue menarik paha Yani sampai benar-benar menekan
kontol gue. Doi kelihatan suka, sehingga tanpa perlu dipegangi lagi, pahanya
terus menekan kontol gue yang cuma tertutup CD. Maka, tangan gue bebas
menggerayangi teteknya yang tidak berkutang. Setelah beberapa saat, tangan Yani
memeluk tangan gue sambil sesekali menekan dan meremas seperti memberi tahu
bahwa doi pingin teteknya diremas lebih keras lagi. Dengan tanggap gue turuti
"perintah"-nya. Teteknya makin mengeras dan pentilnya yang kecil mulai terasa
agak basah. Tangan gue kemudian turun. Live show di jendela bawah mulai masuk
tahap paling seru (tau sendiri deh!). Dengan satu tangan gue lepas CD Yani. Doi
yang yang udah pasrah mengangkat sedikit pantatnya, dan setelah itu membiarkan
tangan gue mengelus-elus bagian luar memeknya yang sudah basah. Gue masukin jari
tengah gue ke dalem lubang memeknya. Memeknya semakin ngocor dan Yani cuma merem
melek sambil mendesah pelan ... ahhhhh ... ahhhhh ..... ahhhhhhhhh .... . Agak
lama kemudian, kedua paha doi merapat sampai menjepit tangan gue, lalu kedua
tangannya memeluk keras badan gue, dan pantatnya maju mundur secara ritmis
beberapa kali sambil mengerang keenakan. Jari tengah gue yang masih ada di dalem
memeknya terasa seperti dipijit-pijit. Setelah orgasme, nafsunya bukannya turun,
malah makin tinggi. Tanpa malu-malu lagi, doi melorotin CD gue, lalu dengan
penuh nafsu menjilati biji dan kontol gue. Aduh mak, gue ngerasa
geli-geli-nikmat. Apalagi ketika pelan-pelan Yani memasukkan kepala nuklir gue
ke dalam mulutnya, sementara lidahnya berputar-putar menjilati bagian bawah
kontol gue. Selagi gue mendesis-desis keenakan, Yani memasukkan seluruh batang
kontol ke dalam mulutnya. Pelan-pelan doi tarik mulutnya, sambil kedua bibirnya
mengatup rapat di seputar batang kontol. Setelah itu doi selomot kontol gue
keluar masuk mulutnya seperti orang makan es lilin. Saking enaknya, pantat gue
sampai maju-mundur seperti orang lagi ngentot. Bedanya, yang mencengkeram kontol
gue bukan memek, tapi mulutnya. Makin lama makin cepat. Kontol gue makin keras
dan terasa sudah mau muncrat. Yani sendiri sudah benar-benar nafsu, napasnya
mendengus-dengus makin keras, kedua bibirnya makin rapet "menggigit" kontol gue,
dan kedua tangannya meremas-remas pantat gue. Gue bener-bener udah nggak tahan.
Segera gue tarik kontol gue sampai lepas dari mulut doi, dan dengan susah payah
gue tahan supaya peju gue nggak sampai muncrat. Berhasil. Sambil mengatur napas
gue lihat Yani sudah dalam posisi duduk di meja dapur menghadap gue, kedua
kakinya terjuntai ke lantai. Doi bener-bener pasrah sewaktu gue melepas kaos
singlet dan roknya. Dalam keadaaan telanjang bulat, doi gue tarik sampai berdiri
dan berpelukan dengan gue. Yani memeluk gue keras-keras, menempelkan seluruh
badannya ke badan gue. Bagian badannya yang menempel dengan kontol gue bahkan
ditekan lebih keras sambil digeser-geser lembut. Sementara bagian badan gue yang
menempel dengan teteknya juga gue teken lebih keras. Tangan gue mulai bekerja
mengelus-elus badannya. Mulai dari punggung sampai pinggang, pinggul, paha, dan
naik lagi ke teteknya. Doi terus mendesah-desah, makin lama makin keras, dan
bibirnya mulai menjilati pentil gue. Voltase gue tentu aja jadi meninggi lagi.
Tangan gue mulai menegerayangi lagi memeknya yang basah kuyup. Gue masukin jari
satu jari gue ke dalam lubang memeknya, sementara lidah gue mulai menjilati
kupingnya. Rupanya itu membuat voltase doi bertambah tinggi juga. Lidahnya bukan
lagi cuma menjilati pentil gue, tapi mulai menjalar ke seluruh dada, perut, dan
tanpa gue sadar, kontol gue sudah dimasukkan lagi ke dalam mulutnya. Cepat-cepat
gue cabut kontol gue dari mulutnya, terus gue dudukkan lagi dia di atas meja
dapur. Gue angkat keduanya kakinya sehingga memeknya berada persis di penggir
meja, siap untuk gue embat. Doi pun, saking nafsunya, langsung mencengkeram
kontol gue yang sudah sekeras besi untuk dimasukkan ke dalam memeknya.
Pelan-pelan kontol gue masuk ke lubang memeknya. Agak basah, tapi lubang
memeknya terasa agak sempit. Dan yang gila, dinding kiri dan kanan dari lubang
memeknya itu bergetar-getar seperti memijit-mijit batang kontol gue. Ketika gue
mulai menggoyang-goyangkan pantat untuk menggerakkan kontol maju mundur,
pijitan-pijitan di dalam memeknya semakin terasa. Enak banget. Yani sendiri
sudah tidak bisa membuka mata lagi karena keenakan. Napasnya nggak beraturan,
dan dari dalem mulutnya keluar erangan-erangan nikmat. Gue bisikin doi, "memek
kamu rasanya enak". Doi cuma menyahut: ahhhhhhh ..... ahhhhhhhh ...... ahhhhhhhh
...... Sementara itu doi mengerakkan pantatnya maju-mundur sembari makin
mempercepat pijitan-pijitan di dalam lubang memeknya. Sialan, bener-bener enak
memeknya, sebentar lagi gue bisa muncrat nih. Buru-buru gue tarik kontol gue
untuk melepaskan diri dari memek enak itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar